Senin, 21 Maret 2011

PKS Terancam Demoralisasi

PKS terancam demoralisasi. Anggota Majelis Syura PKS 2000-2005 Yusuf Supendi membuka persoalan sensitif di tubuh partai yang lekat dengan jargon ‘bersih dan profesional’ itu. Apakah PKS bisa keluar dari lilitan ini?
Penampilan fisik Yusuf Supendi, anggota DPR dari PKS periode 2004-2009 bukan seperti politisi pada umumnya. Yusuf justru identik dengan sosok ustadz. Gayanya kalem, dia memiliki jenggot putih sepanjang sekitar lima centi meter.
Usianya baru 53 tahun. "Saya pengasuh pesantren Mafaza di Bogor," ujarnya kepada INILAH.COM seusai melaporkan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ke Badan Kehormatan (BK) DPR.
Selain mengelola pesantren, Yusuf juga memiliki usaha sendiri. Di antaranya dia memiliki bengkel reparasi Air Conditioner (AC), AC mobil, serta warung sate kambing muda. Tampilan Yusuf benar-benar jauh dari  politisi pada lazimnya.
Nasi kotak yang dia terima saat audiensi dengan Badan Kehormatan (BK) DPR dibawakan sopirnya. "Saya mau makan, lapar," ujarnya seraya mengambil kotak nasi dari sopirnya.
Hari itu cukup penting bagi sejarah hidup Yusuf. Karena, dia harus mengadukan rekan sejawatnya di PKS Luthfi Hasan Ishaaq ke Badan Kehormatan (BK) DPR.  Dia juga mengungkap sejumlah persoalan yang cukup sensitif yang ditudingkan kepada para petinggi PKS. Sebut saja, Sekjen DPP PKS Anis Matta dan Ketua Majelis Syura DPP PKS KH Hilmy Aminuddin.
Aksi Yusuf ini seperti melengkapi persoalan di tubuh partai ‘Islam Kota’ ini. Karena sebelumnya beruntun, PKS diterpa isu miring. Mulai kasus yang menimpa kader PKS Mukhamad Misbakhun, persoalan impor daging bermasalah yang diduga melibatkan kader PKS, hingga desakan agar PKS dikeluarkan dari koalisi SBY-Boediono.
Ketika ditanya apa motivasi Yusuf membongkar kasus ini saat ini, bukankah perkaranya sudah lama berlangsung? Yusuf mengaku dirinya sudah mengadukan ke Dewan Syariah, semacam mahkamah internal PKS, namun dia mengaku tidak ada tanggapan. "Aduan saya tidak digubris pada Juni 2010. Makanya sekarang lewat BK, jika tidak ada kemajuan ke proses hukum," katanya.
Apakah Yusuf tidak khawatir, upaya ini justru dimanfaatkan pihak ketiga yang menginginkan PKS jeblok citranya di depan publik? Yusuf menegaskan tidak ada urusan dengan pihak yang memanfaatkannya. "Hak mereka jika mengambil keuntungan dengan upaya saya," cetusnya.
Alumnus Riyadh, Saudi Arabia ini merupakan kakak senior dari mantan Presiden Partai Keadilan Hidayat Nur Wahid. Bedanya, Yusuf Supendi mengambil jurusan Ushuluddin. Sedangkan Hidayat Nur Wahid mengambil jurusan Syariah. "Saya dipanggil Syekh oleh Ustadz Hidayat, saya lebih tua," akunya.
Apakah ada pihak lain yang menyetir dirinya untuk mengungkapkan kasus sejumlah petinggi PKS? Yusuf menegaskan sama sekali tidak ada pihak-pihak lainnya yang menyetir dan mempengaruhi dirinya.
"Tidak ada yang nyetir," cetusnya. Dia menegaskan, motivasi dirinya mengungkap persoalan ini ke publik semata-mata untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.
Sementara Wakil Sekjen DPP PKS mahfudz Siddiq menyebutkan pihaknya tidak akan banyak mengomentari terkait tudingan Yusuf Supendi terhadap sejumlah elit PKS. "Jadi harap dimaklumi jika kami tidak akan banyak komentari urusan ini. Kami akan berusaha keras menjaga kehormatan dan menutup aib saudara kami sendiri, yang lama telah berkiprah di PKS," ujarnya kepada wartawan, Jumat (18/3/2011).
Mahfudz menyebutkan, Yusuf Supendi telah diberhentikan dari PKS melalui SK DPP No 115/skep/dpp-pks/1430 tanggal 29 Oktober 2009, setelah melalui proses di DSP dan BPDO.
Mahfudz menjelaskan, DSP adalah dewan syariah pusat yang saat itu berfungsi sebagai mahkamah syariah. "Proses di DSP dan BPDO terhadap Yusuf Supendi mengikuti mekanisme dan prosedur baku, oleh pimpinan dan anggota secara kolektif," ujarnya.
Dengan keputusan pemberhentian tersebut, Mahfudz menyebutkan sejak 29 Oktober 2009 PKS secara institusi tidak lagi terikat hak dan kewajiban dengan yang bersangkutan. "Untuk menjaga kehormatan yang bersangkutan, PKS tidak akan menjelaskan perkara yang menyebabkan Yusuf diberhentikan," ujar Mahfudz.
Yusuf sendiri siap menerima konsekwensi atas upaya yang ia lakukan. Dia membantah jika upaya yang ia lakukan karena faktor sakit hati. "Di depan Allah saya siap, secara yuridis juga siap," tandasnya. [mdr]

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com